Minggu, 18 September 2011

Bolehkah Berpuasa Sunnah Syawal Sebelum Membayar Puasa Ramadhan?


Oleh: Badrul Tamam

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga terlimpah untuk Rasulullah, keluarga, dan para sahabatnya.
Secara global, para ulama berselisih pendapat tentang bolehnya berpuasa sunnah sebelum selesai melaksanakan qadla Ramadlan dalam dua pendapat.
Pertama, boleh berpuasa sunnah sebelum melaksanakan qadla Ramadlan. Ini merupakan pendapat Jumhur, baik bolehnya secara global ataupun makruh. Madzab Hanafi membolehkan untuk langsung berpuasa sunnah sebelum melaksanakan qadla Ramadlan karena puasa qadla tidak wajib untuk disegerakan, bahkan kewajibannya sangat luas (lapang), dan ini merupakan satu riwayat dari Ahmad.
Sedangkan madhab Maliki dan Syafi’i berpendapat: boleh tapi makruh. Sebabnya, karena menyibukkan diri dengan amal sunnah dari yang qadla berupa mengakhirkan yang wajib.
Kedua, haram berpuasa sunnah sebelum melaksanakan qadla’ Ramadlan. Ini merupakan pendapat madhab Hambali.
Yang shahih dari dua pendapat ini adalah yang menyatakan bolehnya berpuasa Sunnah enam hari di bulan syawal sebelum membayar puasa Ramadlan. Karena waktu (kesempatan) qadla’ (membayar puasa Ramadlan) luas. Sedangkan pendapat yang tidak membolehkan dan menyatakan tidak sah membutuhkan dalil, dan tidak ada satu dalilpun yang bisa dijadikan sandaran untuk hal itu. Sementara dalil yang ada menunjukkan bolehnya untuk melaksanakan puasa sunnah sebelum puasa qadla, yaitu firman Allah Ta’ala, “. . . Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.” (QS. Al-Baqarah: 185) dan hadits Aisyah radliyallaahu 'anha, “Aku memiliki hutang puasa Ramadlan, tetapi aku tidak sanggup menggantinya kecuali pada bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dan tidak diragukan lagi bahwa Aiysah radliyallaahu 'anha melaksanakan puasa sunnah di sela-sela tahun itu, dan pastinya perbuatan Aisyah itu diketahui oleh Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam. Ini berarti beliau menyetujuinya.
Sedangkan persoalan yang berkaitan dengan puasa enam hari di bulan Syawal sebelum selesai melaksanakan qadla Ramadlan, di kalangan ulama, terdapat dua pendapat:
Pertama, keutamaan puasa di bulan syawal tidak bisa diraih kecuali oleh orang yang sudah menyelesaikan hutang puasa Ramadlan yang pernah ditinggalkannya karena udzur. Mereka berdalil dengan sabda Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam,
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan, lalu diikuti dengan puasa enam hari pada bulan Syawal, maka dia seperti puasa sepanjang tahun.” (HR. Muslim dari Abu Ayyub al-Anshari)
Dan seseorang disebut telah berpuasa Ramadlan jika telah menyelesaikan jumlah hari di bulan tersebut. Imam al-Haitami dalam Tuhfah al-Muhtaj (3/457) menjelaskan keutamaan puasa enam hari di bulan Syawal diraih dengan puasa Ramadlan, yaitu keseluruhannya. Jika tidak maka keutamaan tersebut tidak akan diraih.
Ibnu Muflih dalam kitabnya Al-Furu’ (3/108) berkata, “Keutamaan puasanya (enam hari dari bulan Syawal) ditujukan bagi orang yang melaksanakan puasa tersebut dan telah mengqadla puasa Ramadlan, dan tidak puasanya di bulan Ramadlan itu dikarenakan udzur. . . .” Dan sejumlah ulama kontemporer juga berpendapat demikian seperti Syaikh Abdul Aziz bin Bazz dan Syaikh Muhammad al-Utsaimin rahimahumallaah.
Kedua, bahwa keutamaan puasa enam hari dari bulan Syawal bisa diraih bagi siapa yang melaksanakannya sebelum mangadla’ puasa yang ditinggalkannya di bulan Ramadlan karena ada udzur. Karena orang yang tidak berpuasa beberapa hari di bulan Ramadlan dikarenakan udzur bisa dibenarkan kalau dia telah berpuasa Ramadlan. Lalu apabila dia mengiringinya dengan puasa enam hari dari bulan Syawal sebelum melaksanakan qadla’, maka dia mendapatkan pahala yang dijanjikan oleh Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam.
Al-Bajirami dalam Hasyiyahnya menukil tentang bantahan terhadap pendapat yang mengatakan tidak akan diperoleh pahala puasa enam hari dari bulan Syawal oleh orang yang mendahulukan puasa tersebut atas puasa qadla’ dengan hujjah bahwa sabda Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam “Lalu diikuti dengan puasa enam hari pada bulan Syawwal”.  Beliau beralasan bahwa kata tab’iyah “mengikuti” bisa bermakna taqdiriyah, artinya kalau puasa tesebut dilaksanakan sesudah melaksanakan puasa di bulan Ramadlan (walau masih memiliki hutang karena udzur), maka berpuasa enam hari di bulan syawal disebut telah mengikuti.
Ada sejumlah ulama kontemporer yang condong kepada pendapat kedua, seperti Syaikh Abu Malik Kamal bin al-Sayyid Salim dalam Shahih Fiqih Sunnahnya. Setelah beliau menukilkan pendapat ulama yang melarang untuk mendahulukan puasa enam hari di bulan Syawal sebelum mengadla’ puasa Ramadlan yang ditinggalkannya karena udzur, beliau mengatakan, “Kecuali bila dikatakan sabdanya: ‘kemudian dilanjutkan dengan puasa enam hari dari bulan Syawal’, terucap secara umum, dan tidak memiliki konteks mafhum sama sekali, maka ketika itu boleh melaksanakan puasa enam hari di blan syawal tersebut sebelum melaksanakan puasa qadlan Ramadlan. Terutama apabila bulan syawal terasa sempit bagi seseorang jika harus mengadla terlebih dahulu. (Shahih Fiqih Sunnah, Abu Malik Kamal Salim, Pustaka al-Tazkia, Jakarta: 3/182)
. . . Puasa enam hari di bulan Syawal merupakan keutamaan khusus untuk bulan ini yang akan hilang dengan berlalunya bulan Syawal. . . 
Syaikh Khalid bin Abdullah al-Mushlih juga termasuk yang lebih condong untuk membolehkan. Beliau menjelaskan, bahwa makna didapatkannya keutamaan tersebut tidak tergantung dengan selesai dari melaksanakan qadla’ sebelum melaksanakan puasa enam hari di bulan Syawal. Karena kelanjutan puasa bulan Ramadlan untuk puasa sepuluh bulan sesudahnya bisa diraih dengan menyempurnakan pelaksanaan amal fardlu baik dengan langsung atau diqadla’. Dan Allah sendiri telah melapangkan dalam masalah qadla’ melalui firman-Nya,
 فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ
“. . . Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 185)
Pendapat yang shahih: boleh berpuasa Sunnah enam hari di bulan syawal sebelum membayar puasa Ramadlan. Karena waktu (kesempatan) qadla’ (membayar puasa Ramadlan) luas.
Sedangkan puasa enam hari di bulan Syawal merupakan keutamaan khusus untuk bulan ini yang akan hilang dengan berlalunya bulan Syawal. Namun demikian mendahulukan puasa fardlu untuk mengangkat beban kewajiban itu lebih utama daripada menyibukkan dengan amal sunnah. Tapi siapa yang berpuasa enam hari di bulan Syawal lalu baru melaksanakan puasa qadla sesudahnya, maka dia mendapatkan keutamaan puasa tersebut karena tidak ada dalil khusus yang meniadakan hilangnya keutamaan tersebut. wallahu a’lam [voa-islam.com]

Sungguh Allah Amat Sayang Kepada Orang Beriman

Oleh: Badrul Tamam
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang rahmat-Nya senantiasa kita harapkan. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulillah, Shallallahu 'Alaihi Wasallam beserta keluarga dan para sahabatnya.
Saudaraku, para pembaca yang mulia!
Jika kita orang beriman, maka yakinlah bahwa Allah amat sayang kepada kita. Dia tak ingin mencelakakan hamba-hamba-Nya yang beriman. Bahkan sebaliknya, Dia senantiasa menghendaki kebaikan kepada mereka. Karenanya, Dia perintahkan segala sesuatu yang mendatangkan mashlahat dan kebaikan. Dan Dia larang segala hal yang bisa mendatangkan kerusakan dan kemudharatan terhadap mereka.
Allah Ta'ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu." (QS. Al-Nisa': 29)
Bukti kasih sayang Allah kepada hamba beriman itu dapat kita temui dalam risalah yang dengannya Allah mengutus Rasul-Nya Shallallahu 'Alaihi Wasallam,
الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِنْدَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالْأَغْلَالَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ
"(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang umi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang makruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka." (QS. Al-A'raf: 157)
Saudara seiman yang dirahmati Allah!
Begitu pula yang ada dalam perintah ibadah shiyam. Bukan Allah ingin menyiksa dan meyakini hamba-Nya dalam menjalankannya. Namun, Allah ingin agar hamba tersebut menjadi insan yang mulia dan menjadi hamba Allah yang sesungguhnya. Oleh sebab itu Allah sebutkan secara gamblang dalam ayat shiyam, tujuannya agar orang-orang beriman menjadi hamba Allah yang bertakwa; La'allakum Tattaquun (agar kalian menjadi orang yang bertakwa). Dan sesungguhnya surga itu disediakan bagi para hamba Allah yang bertakwa.
وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa." (QS. Ali Imran: 133)
Saudaraku yang mulia!
Pada hakikatnya, perjalanan hidup kita di dunia ini adalah perjalanan menuju Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dalam perjalan itu, kita berbuat dan berucap. Dan perbuatan serta ucapan kita tadi terhitung sebagai bagian pekerjaan yang kita haturkan kepada-Nya. Selanjutnya Dia akan memberi balasan dari setiap pekerjaan kita. Jika baik, maka balasannya pun baik pula. Sebaliknya, jika buruk, balasannya juga buruk.
يَا أَيُّهَا الْإِنْسَانُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَى رَبِّكَ كَدْحًا فَمُلَاقِيهِ
"Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya." (QS. Al-Insyiqaq: 6)
Saudaraku, kaum muslimin yang mulia!
Idealnya, setiap perkataan dan perbuatan kita itu mendatangnya cinta dan ridha Allah Ta'ala. Dan untuk itulah, Dia menciptakan kita dan memenuhi rizki kita.
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku." (QS. Al-Dzariyat: 56) dan makna ibadah, menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah adalah sebuah nama yang mencakup setiap perkataan dan perbuatan, yang dhahir maupun yang batin, yang dicintai dan diridhai Allah.
Dalam redaksi lain yang disebutkan Al-Qur'an, agar kita melakukan yang terbaik untuk Allah Subhanahu wa Ta'ala.
لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا
"Supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya." (QS. Hud: 7 dan al-Mulk: 2)
Namun, kita sebagai manusia yang dibekali nafsu dan syahwat sering lalai. Banyak dari sikap dan tindakan kita yang lebih menuruti dorongannya, daripada memenuhi tujuan di atas. Begitu juga atmosfir di sekitar kita, banyak yang menjauhkan dari nilai takwa. Tontonan yang beredar lebih banyak mengajak untuk hidup materialistik dan kebebasan. Dengan bumbu kemewahan, seolah hidup wah manjadi satu tujuan yang harus diburu dan dicita-citakan. Semua itu menjadi satu sebab yang memalingkan kita dari menapak jalan menuju cinta ridha-Nya.
Kawan dan orang-orang disekitar lebih banyak mempengaruhi kita dalam keburukan, berhura-hura, nongkrong, dan pengaruh-pengaruh lainnya. Semantara kita sebagai makhluk sosial yang butuk pada pergaulan, lebih mudah terpengaruh kepada sesuatu yang negatif dari pada yang positif. Aturan yang berlaku di negeri ini dan yang berjalan di masyarakat juga begitu, jauh dari aroma takwa dan tunduk pada syariat-Nya. Sehingga kemaksiatan terdukung dengan hebat. Sementara ajakan-ajakan takwa dan menerapkan syariat Allah menjadi momok yang harus ditakuti. Semua itu juga tidak lepas dari sikap phobia para penguasa terhadap syariat Allah Ta'ala.
Maka, saudaraku, amat berat kalau harus menanggung tuntutan dan pertanggungjawaban atas nikmat-nikmat yang Allah berikan. Yang penuh kesadaran kita akui, lebih banyak kita kufuri dari yang kita syukuri. Begitu juga dosa, betapa banyak yang sudah kita kumpulkan. Dan sungguh amat berat kalau kita harus disiksa atas setiap dosa-dosa tersebut. Karenanya kita membutuhkan satu kesempatan untuk mengejar ketertinggalan dalam mengumpulkan pahala dan untuk menghapus dosa-dosa. Dan Allah amat sayang kepada kita, Dia berikan kesempatan mendapatkan Ramadhan di tahun ini, 1432 Hijriyah. Supaya kita bisa mengerjar ketertinggalan-ketertinggalan tadi dan menghapus dosa-dosa yang sudah menumpuk tinggi. Oleh sebab itu, satu iming-iming yang disebutkan dalam hadits al-Syarif adalah dilipatgandakannya amal kebaikan di bulan suci yang penuh berkah ini. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعمِائَة ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِي
"Setiap amalan anak Adam akan dilipatgandakan pahalanya, satu kebaikan akan berlipat menjadi 10 kebaikan sampai 700 kali lipat. Allah 'Azza wa Jalla  berfirman, ‘Kecuali puasa, sungguh dia bagianku dan Aku sendiri yang akan membalasnya, karena (orang yang berpuasa) dia telah meninggalkan syahwatnyadan makannya karena Aku’.” (HR. Bukhari dan Muslim, lafadz milik Muslim)
Ampunan dosa juga menjadi primadona yang ditawarkan, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, "Siapa berpuasa Ramadhan imanan wa ihtisaban (dengan keimanan dan mengharap pahala), diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (HR. Bukhari dan Muslim)
Sesungguhnya ampunan dosa yang dijanjikan kepada kita dikarenakan kita adalah makhluk yang banyak berbuat dosa. Sedangkan dosa merupakan sebab datangnya berbagai kesulitan, musibah, bencana duniawi dan ukhrawi. Bukankah Allaha telah berfirman,
وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ
"Dan apa musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)." (QS. Al-Syura: 30)
Jadi pada ringkasnya, syariat puasa Ramadhan yang difardhukan kepada kita, kaum mukminin, selama satu bulan penuh adalah untuk kebaikan kita juga. Puasa itu diwajibkan atas kita karena sayangnya Allah kepada kita, bukan karena Allah dengki kepada kita dari bersenang-senang. Begitu juga seharusnya yang kita yakini dari setiap perintah Allah yang tersebut dalam syariat Islam. Semuanya untuk kebaikan kita, kaum mukminin secara khusus, dan juga untuk kehidupan duniawi bagi manusia secara umum. Karena dengan ditegakkannya syariat Allah, keberkahan yang turun dari langit dan yang keluar dari bumi akan melimpah. Kemakmuran dan ketentraman akan dirasakan oleh negeri yang menjalankan keimanan dan ketakwaan kepada Allah 'Azza wa Jalla .
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آَمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ
"Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi." (QS. Al-A'raf: 96)
Seorang muslim yang yakin, Allah amat sayang kepada mereka, bahwa apa yang Allah tetapkan bagi mereka dari syariat-Nya adalah untuk kebaikan mereka, pasti tidak akan berkata "No" untuk syariat Islam. Bahkan saat diseru kepadanya ucapannya tidak lain adalah sami'na wa atha'na (kami mendengar dan kami patuh).
إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
"Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan." "Kami mendengar dan kami patuh." Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS. Al-Nuur: 51)
Maka mari kita membenarkan akan mulia dan baiknya syariat Allah, lalu kita tunduk dan patuh kepadanya. Karena apa yang Dia tetapkan bagi kita adalah untuk kebaikan kita yang sesungguhnya, baik di dunia maupun di akhirat. Sebab, ALLAH AMAT SAYANG KEPADA KITA, ORANG-ORANG BERIMAN. Wallahu Ta'ala a'lam. [PurWD/voa-islam.coam]

Tanda Seseorang Melakukan Riya'


Oleh: Badrul Tamam
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulullah, keluarga dan para sahabatnya.
Riya’ merupakan syirik khafi (samar), yakni syirik yang bersifat rahasia,- semoga Allah melindungi kita darinya -. Sedangkan seseorang lebih tahu terhadap dirinya sendiri dibandingkan orang lain dalam masalah ini.
بَلِ الْإِنسَانُ عَلَى نَفْسِهِ بَصِيرَةٌ
Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri.” (QS. Al-Qiyamah: 14)
Maka siapa yang mengintrospeksi dirinya dan merasa diawasi oleh Rabb-Nya dalam keadaan sepi atau ramai, akan selamat dari penyakit yang berbahaya ini. Dan di antara tanda riya yang paling jelas adalah pelakunya sengaja menampakkan amal-amak shalihanya di tengah-tengah manusia dan sengaja membicarakan kebaikan serta ketaatannya untuk mendapatkan pujian dan sanjungan mereka.
Meninggalkan Amal Karena Takut Riya’
Seorang hamba tidak boleh meninggalkan amal hanya karena takut riya’. Itu termasuk jerat-jerat tipu daya setan. Karena setan, pada satu kondisi berusaha menjerumuskan seorang hamba ke dalam riya untuk merusak amalnya. Atau pada kondisi yang lain menipunya dengan meninggalkan amal karena takut riya’ supaya tidak melakukan amal shalih. Padahal dia diperintahkan untuk beramal dan bersungguh-sungguh menjalankan ketaatan dengan berharap ridha Allah dan meninggalkan godaan setan dan tipu dayanya. Maka siapa yang sudah berazam menjalankan satu ibadah lalu meninggalkannya karena takut riya’, sebenarnya dia telah berbuat riya’. Karena dia meninggakan amal karena manusia. Tetapi jika meninggalkannya untuk dikerjakan saat sendirian, maka ini dianjurkan kecuali pada amal-amal wajib.
Meninggalkan amal karena takut riya’ sebenarnya adalah riya’, karena dia meninggakan amal karena manusia.
Terapi Riya’
Terapi untuk menyembuhkan riya’ banyak macamnya. Yang paling utama adalah tekad tulus untuk berhenti dari riya’ dan meninggalkannya. Selanjutnya banyak mengingat hari akhir dan ancaman pedih bagi orang yang berbuat riya’. Seorang hamba harus meyakini bahwa kebaikan dan keburukan ada di tangan Allah Ta’ala. Sementara yang sempurna memujinya dan menghinakannya adalah Allah Ta’ala yang tiada sekutu bagi-Nya. Karena itu hendaknya ia mengintrospeksi dirinya, menghitung aib, kesalahan, dan kekurangannya. Juga memperbanyak ibadah siri (yang bersifat rahasia) seperti shalat malam, bershadaqah dengan sembunyi-sembunyi, dan menangis sendirian karena takut kepada Allah.
Orang yang ingin selamat dari riya’ juga harus meminta tolong kepada Allah Ta’ala untuk merealisasikan keikhlasan dan berdoa dengan doa yang diajarkan oleh Nabi shallallau 'alaihi wa sallam, yaitu:
اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بِك أَنْ أُشْرِكَ بِك وَأَنَا أَعْلَمُ وَأَسْتَغْفِرُك لِمَا لَا أَعْلَمُ
"Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan syirik (menyekutukan-Mu) sedangkan aku mengetahuinya. Dan aku memohon ampun kepada-Mu terhadap kesyirikan yang tidak aku ketahui." (HR. Ahmad dan Shahih Abi Hatim serta yang lainnya, shahih). Wallahu Ta’ala a’lam.
Orang yang ingin selamat dari riya’ juga harus meminta tolong kepada Allah Ta’ala untuk merealisasikan keikhlasan dan berdoa dengan doa yang diajarkan oleh Nabi shallallau 'alaihi wa sallam
Semoga shalawat dan salam dilimpahkan kepada Nabi kita Muhammad berserta keluarga dan para sahabatnya. [PurWD/voa-islam.com]

Jilbab Syar'i itu Jilbab Fisik atau Jilbab Hati?


By: Yulianna PS
Penulis Cerpen “Hidayah Pelipur Cinta”
Hingga hari ini masih banyak wanita yang memperdebatkan masalah jilbab. Banyak dari mereka tidak mengenakan jilbab dengan alasan masih merasa hatinya belum terjilbabi. Statemen ini awalnya merebak di kalangan artis. Untuk menghindari dan mengingkari perintah hijab. Mereka menggunakan alasan di atas untuk menguatkan alasannya membiarkan kepalanya telanjang ditempat umum.
Pada hari ini, artis telah menjadi ‘berhala baru’ bagi anak muda. Tidak mengenal sahabat Rasulullah sudah menjadi hal yang dimaklumi, tapi tidak punya idola artis akan mendapat julukan kampungan, kuper dll. Setelah artis dijadikan berhala baru yang diidam-idamkan, dipuji-puji, dikagumi, apa saja yang artis lakukan akan di ikuti, termasuk artis yang tidak mengenakan hijab.
Dalam kenyataannya, statemen ‘ingin menjilbabi hati’ ini telah melekat di hati banyak wanita muda. Mereka enggan mengenakan hijab dengan alasan masih belum siap dan ingin menjilbabi hatinya dulu. Kelompok ini bukan tidak siap, tetapi bisa jadi enggan melakukan persiapan. Padahal perintah hijab itu bukan perintah biasa, tetapi perintah Allah SWT secara langsung bagi wanita beriman.
“Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuan dan anak-anak orang mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Al-Ahzab 59).
“Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya.....” (An-Nur 31).
Jika wanita islam enggan mengenakan hijab, lantas apa bedanya mereka dengan wanita non muslim? Sesungguhnya hijab itu adalah pembeda antara wanita muslim dengan non muslim.
Tidak ada satupun ada perintah yang mengatakan bahwa jilbab hati itu merupakan hal yang urgent dibanding jilbab fisik. Statemen jilbab hati muncul dari kalangan mereka yang belum memahami ilmu hijab dengan baik.
Meski begitu, hijab itu bukan hijab yang menjadikan wanita tersebut tabarruj (memamerkan kecantikan), bukan pula yang bercorak-corak modis. Karena sesungguhnya ada batasan dan kriteria busana syar’i yang harus diperhatikan, antara lain:
1. Harus menutup seluruh badannya kecuali wajah dan telapak tangan, maka tidak boleh ditampakkan leher dan lain-lain walaupun hanya sebesar uang logam.
2. Bukan busana perhiasan yang justru menarik perhatian seperti yang banyak dihiasi dengan gambar bunga apalagi yang warna-warni.
3. Harus longgar, tidak ketat, tidak tipis, dan tidak sempit yang mengakibatkan lekuk tubuhnya tampak atau transparan.
4. Tidak diberi wangi-wangian atau parfum karena dapat memancing syahwat lelaki yang mencium keharumannya.
5. Tidak menyerupai kaum laki-laki seperti memakai celana panjang (ketat), kaos oblong, dan semacamnya. Rasulullah melaknat laki-laki yang menyerupai perempuan dan perempuan yang menyerupai laki-laki.
6. Tidak menyerupai pakaian orang-orang kafir.
7. Bukan untuk mencari popularitas.
Jadi, jilbab hati itu tidak ada. Yang Allah perintahkan adalah jilbab fisik, adapun mengenai hati, itu merupakan kewajiban, tanpa harus menafikan masalah urgensi jilbab fisik. [voa-islam.com]

Sory, Lagi sibuk Nich, No Time To Gossip.



sorry aku lagi sibuk
Assalamuallaikum!! begimana kabar semuaaa?
Teman-teman seakidah, sebangsa, setanah, dan seair, pembahasan kita kali niy, lumayan ajib deh. Tentang para gosipers en korban- korbannya. The gossipers kali niy definisinya adalah orang yang hobi ngabisin waktu hidupnya cuman buat ngebuat ditel daftar kekurangan en kesalahan orang lain. Mereka biasanya dilengkapi radar plus sinyal paling kuuuat buat ngepublish kejelekan orang laen. Noh liat, slalu aja laporan live langsung dari TKP yang trus disebar ke seantero sekolah, tetangga dll, dsb. Nah, bahan baku yang mereka buwat jadi gossip or skedar bcandaan sampe menjurus pada hal yang tak diinginkan, yaeto fitnah, pokoknya menyangkut aib en kekurangan orang lain. 
Mulutnya nggak kan abies jatah hurupnya yang bakal disusun buat tetap eksis dengan gelar raja or ratu gosip. Ciri khas mereka yaitu doyan banget yang namanya ............. tapi kebalikannya sob, mereka nggak banget kalo suruh bercermin. Scara lah, emang hobinya nyari kesalahan orang laen, trus pada mana sempat  ngaca buat diri sendiri en nyari kesalahan apalagih memperbaiki. belon lagih kalo temen sebelah pada sukses, beuuuh ada ajah caranya dia buat ngejatuhin. Dari yang cara simple ampe nebar fitnah lah. Makanya orang yang hobi ngegosip bakal jadi temen karib rasa sirik di ati. Ampunn deh cin,  aneh banget yach orang laen yang seneng kok jadi kamu yang darah tinggi, meriang komplikasi ama penyakit G6  alias (gue galau gituh guys). Bener deh, ksian banggets idup mereka. Gimana nggak mereka cuman bisa bahagia dengan ngejatohin orang lain. 
nah, khusus buat yang laki`, tar dulu... emang cowok juga ada yang the gossipers juga? widiiiww, jangan salah sob. area gosip nggak pake batas wilayah yow. Tapi rasanya jadi gemana getoh ya. co kan biasanya pada maen futsal, bola, minimal maen klereng laaahh. Kalo denger cowok pada ngegosip, rsanya nggak lakii banget gituh. 
yah lpas dari itu cewek ato cowok, yang namanya gosip tuh nggak penting. NGGAK. PENTING. ngebuang jatah hidup en nyia- nyiain tiket buat ntar jadi orang baek si surga. Bener- bener tak patut, but pantes dikasihani idup mereka tuh. Dengan gaya mereka yang seperti dijelasin diatas, justru orang bisa ngeliat banget bukti nyata tingkat kedewasaan nya. Ya gitu deh. 
Fiuhh, kalo ajah mereka nyadar yach, gimana jadinya nasib mereka ntar an di sono, pas idup di akherat sono. Ngerii sob.  Dari Abu Dawud , Nabi Muhammad SAW pernah bersabda: “Pada malam ketika aku melakukan perjalanan malam (isra’), aku melewati suatu kaum yang mencakar wajahnya mereka dengan kuku mereka sendiri. Aku bertanya, ‘wahai Jibril, siapakah mereka itu?’ Jibril menjawab, ‘mereka adalah orang-orang yang menggunjing dan mencela kehormatan orang lain.’”
mangkanya pren, kamu gaul boleh ajah, temen ya tmen la, tapi kudu yang bisa ngebawa kita ke kutub positif . Kalo emang dengan punya temen, malah makin nambah dosa en nggak buat kita jadi lebih maju, nyatain ajah sorry ya lagih sibuk nich, ato gue-lo.. End!!. truz lanjutannya cari ajah temen gaul yang laen, yaah kta si eyang juga, dunia nggak semini daun kelor kan, slow down ajah teman. 
Dan buat korban- korbannya, yah udah pasti bisa ditebak la, tuh orang yang hobi ngegosip pasti bakal jadi public enemy Nomor satu. tapi pren, jangan pada sedih deh, walo mereka dah jelas- jelas nyakitin kamu dengan seribu satu fitnah en gosip yang nggak bener. Soalnya Diriwayatkan oleh Abu Ummah al-Bahili, di akhirat seorang akan terkejut apabila melihat cacatan amalan kebaikan yang tidak pernah dilakukannya didunia. Maka, dia berkata kepada Allah "Wahai Tuhan ku, dari manakah datangnya kebaikan yang banyak ini, sedangkan aku tidak pernah melakukannya". Maka Allah menjawab : "Semua itu kebaikan (pahala) orang yang mengumpat engkau tanpa engkau ketahui".
Masyaallah, buru- buru ajah nyudahin tuh yang namanya gosip.Soalnya selain ngebuat kita nggak pinter, btingkah kya gitu juga ngebuat kita rugi. Gimana nggak, capek- capek kebaikan kita kumpulin, en jatah hari nggak kan mungkin balik, eh ini malah dengan sante nya ngebuang- buang catatan kebaikan sendiri. Waw, super duper Rugi!!. Nah tar pas dah nrima buku amal yang bakal ngedisplay semua daftar dosa- dosa kita, walaah bakal nangis ampe bguling- guling karena nyesel kali` si orang- orang yang suka ngegosip tuh. Nggak percaya, cek yang dibawah niy okay!!
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, katanya Rasulullah bersabda : “Tahukah kamu apa arti  bangkrut / rugi?” Jawab para sahabat, “ Orang yang rugi menurut kami ialah orang yang tidak punya uang dan tidak punya harta.” Sabda Nabi, ” Sesungguhnya orang yang bangkrut  dari umatku ialah (orang) yang datang pada hari kiamat dengan membawa amalan shalat, puasa dan zakat, dan membawa dosa karena dia pernah mencaci-maki (menggunjing/meng-ghibah) orang lain (sesama muslim), menuduh-nuduh orang, pernah memakan harta orang, pernah membunuh orang serta dia pernah memukul orang lain. Kemudian dia menanti orang ini menuntut dan mengambil pahalanya (sebagai tebusan) dan orang itu mengambil pula pahalanya. Bila pahala-pahalanya habis sebelum selesai tuntutan dan ganti tebusan atas dosa-dosanya maka dosa orang-orang yang menuntut itu diletakkan di atas bahunya lalu dia dihempaskan ke api neraka.” (HR. Muslim no.2211)
pernah nggak pada mikir, kasian banget kan kalo sampe mereka yang kena jadi bahan gosip jadi di cap jelek?. Teman, semua orang tuh punya sisi baik dan buruk kok. Slama kita masih punya titel manusia, salah pasti tetep bakalan ada. Nich termasuk kamu juga loh.  So, kalo emang faktanya dia jelek, cobalah cari sisi bagusnya. 
Trus buat kamu yang udah ngerasa pernah ngegosipin siapapun, buru- buru minta maaf deh, soalnya Rasulullah S.A.W. bersabda : "Awaslah daripada mengumpat kerana mengumpat itu lebih berdosa daripada zina. Sesungguhnya orang melakukan zina, apabila dia bertaubat, Allah akan menerima taubatnya. Dan sesungguhnya orang yang melakukan umpat tidak akan diampunkan dosanya sebelum diampun oleh orang yang diumpat" (Hadis riwayat Ibnu Abib Dunya dan Ibnu Hibbad). 
Jangan lupa juga pren, ingetin temen- temen yang pada ikut klub gosipers, buat nggak nerusin semua perbuatan itu. Untung banget loh, Seperti yang disabdakan Nabi yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Tabhrani, “Barangsiapa yang membela kehormatan saudaranya yang sedang dipergunjingkan, maka Alloh akan membebaskannya dari api neraka.
Trakir, ...
En cukuplah Sabda Rasulullah S.A.W. dibawah niy, jadi warning buat kita semua,
"Wahai orang yang beriman dengan lidahnya tetapi belum beriman dengan hatinya! Janganlah kamu mengumpat kaum muslim, dan janganlah kamu mengintip-intip keaibannya. Sesungguhnya, sesiapa yang mengintip keaiban saudaranya, maka Allah akan mengintip keaibannya, dan dia akan mendedahkannya, meskipun dia berada dalam rumahnya sendiri" (Hadis riwayat Abu Daud)
Mulailah   kita buru- buru deh barang bentaran ajah pada puasa spik. Cuman ngomonk yang baek- baek en ngedenger yang baek- baek juga,Insyaallah bakal jadi rahmat buat kita en semua orang. Bukankah Allah nyiptain kekurangan ke semua manusia, biar manusia bisa belajar untuk stay humble sama yang laennya? ....
Assalamuallaikum!! Begimana kabar semuaaa?
Teman-teman seakidah, sebangsa, setanah, dan seair, pembahasan kita kali niy, lumayan ajib deh. Yaituw...tentang para gosipers en korban- korbannya.
The gosiper kali niy definisinya adalah orang yang hobi ngabisin waktu hidupnya cuman buat ngebuat ditel daftar kekurangan en kesalahan orang lain. Mereka biasanya dilengkapi radar plus sinyal paling kuuuat buat ngepublish kejelekan orang laen. Noh liat, slalu aja laporan live langsung dari TKP yang trus disebar ke seantero sekolah, tetangga dll, dsb. Dan...bahan baku yang mereka buwat jadi gosip or skedar bcandaan sampe menjurus pada hal yang tak diinginkan, yaeto fitnah, adalah tentang pokoknya menyangkut aib en kekurangan orang lain
Nggak bakal ada cerita bakal kram mulut, biar tetap eksis dengan gelar raja or ratu gosip. Seharian ngomongin orang pun nggak bakal capek, yang ada malah semangat ampe bdarah- darah deh mereka.
Tapi sayang pren, mereka nggak banget kalo suruh bercermin. Scara lah, emang hobinya nyari kesalahan orang laen, trus pada mana sempat  ngaca buat diri sendiri en nyari kesalahan apalagih memperbaiki. Biasanya mereka malah makin menjadi pas ngeliat temen sebelah pada sukses. Beuuuh ada ajah caranya dia buat ngejatuhin. Dari yang cara simple ampe nebar fitnah lah. Mangkanya nggak heran lah, kalo orang yang hobi ngegosip bakal jadi temen karib rasa sirik di ati. Hee...  aneh banget yach orang laen yang seneng kok jadi kamu yang darah tinggi, meriang komplikasi ama penyakit G6  alias (gue galau gituh guys). Bener deh, ksian banggets idup mereka. Gimana nggak mereka cuman bisa bahagia dengan ngejatohin orang lain.
Nah, khusus buat yang laki`, tar dulu... emang cowok juga ada yang the gosiper juga? widiiiww, jangan salah sob. Area gosip nggak pake batas wilayah yow. Tapi rasanya jadi gemana getoh ya. Co kan biasanya pada maen futsal, bola, minimal maen klereng laaahh. Kalo denger cowok pada ngegosip, rsanya nggak lakii banget gituh.
Yah lpas dari itu cewek ato cowok, yang namanya gosip tuh nggak penting. NGGAK. PENTING. Ngebuang jatah hidup en nyia- nyiain tiket buat ntar jadi orang baek si surga. Bener- bener tak patut, but pantes dikasihani idup mereka tuh. Dengan gaya mereka yang seperti dijelasin diatas, justru orang bisa ngeliat banget bukti nyata tingkat kedewasaan nya. Ya gitu deh.
Fiuhh, kalo ajah mereka nyadar yach, gimana jadinya nasib mereka ntar an di sono, pas idup di akherat sono. Ngerii sob.  Dari Abu Dawud , Nabi Muhammad SAW pernah bersabda: “Pada malam ketika aku melakukan perjalanan malam (isra’), aku melewati suatu kaum yang mencakar wajahnya mereka dengan kuku mereka sendiri. Aku bertanya, ‘wahai Jibril, siapakah mereka itu?’ Jibril menjawab, ‘mereka adalah orang-orang yang menggunjing dan mencela kehormatan orang lain.’”
Mangkanya pren, kamu gaul boleh ajah, temen ya tmen la, tapi kudu yang bisa ngebawa kita ke kutub positif . Kalo emang dengan punya temen, malah makin nambah dosa en nggak buat kita jadi lebih maju, nyatain ajah sorry ya lagih sibuk nich, ato gue-lo.. End!!. Truz lanjutannya cari ajah temen gaul yang laen, yaah kta si eyang juga, dunia nggak semini daun kelor kan, slow down ajah teman.
Betewe, buat korban- korbannya, yah udah pasti bisa ditebak la, tuh orang yang hobi ngegosip pasti bakal jadi public enemy Nomor satu. Tapi pren, jangan pada sedih deh, walo mereka dah jelas- jelas nyakitin kamu dengan seribu satu fitnah en gosip yang nggak bener. Soalnya Diriwayatkan oleh Abu Ummah al-Bahili, di akhirat seorang akan terkejut apabila melihat cacatan amalan kebaikan yang tidak pernah dilakukannya didunia. Maka, dia berkata kepada Allah "Wahai Tuhan ku, dari manakah datangnya kebaikan yang banyak ini, sedangkan aku tidak pernah melakukannya". Maka Allah menjawab : "Semua itu kebaikan (pahala) orang yang mengumpat engkau tanpa engkau ketahui".
Masyaallah, buru- buru ajah nyudahin tuh yang namanya gosip.Soalnya selain ngebuat kita nggak pinter, btingkah kya gitu juga ngebuat kita rugi. Gimana nggak, capek- capek kebaikan kita kumpulin, en jatah hari nggak kan mungkin balik, eh ini malah dengan sante nya ngebuang- buang catatan kebaikan sendiri. Waw, super duper Rugi!!. Nah tar pas dah nrima buku amal yang bakal ngedisplay semua daftar dosa- dosa kita, walaah bakal nangis ampe bguling- guling karena nyesel kali` si orang- orang yang suka ngegosip tuh. Nggak percaya, cek yang dibawah niy okay!!
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, katanya Rasulullah bersabda : “Tahukah kamu apa arti  bangkrut / rugi?” Jawab para sahabat, “ Orang yang rugi menurut kami ialah orang yang tidak punya uang dan tidak punya harta.” Sabda Nabi, ” Sesungguhnya orang yang bangkrut  dari umatku ialah (orang) yang datang pada hari kiamat dengan membawa amalan shalat, puasa dan zakat, dan membawa dosa karena dia pernah mencaci-maki (menggunjing/meng-ghibah) orang lain (sesama muslim), menuduh-nuduh orang, pernah memakan harta orang, pernah membunuh orang serta dia pernah memukul orang lain. Kemudian dia menanti orang ini menuntut dan mengambil pahalanya (sebagai tebusan) dan orang itu mengambil pula pahalanya. Bila pahala-pahalanya habis sebelum selesai tuntutan dan ganti tebusan atas dosa-dosanya maka dosa orang-orang yang menuntut itu diletakkan di atas bahunya lalu dia dihempaskan ke api neraka.” (HR. Muslim no.2211)
Pernah nggak pada mikir, kasian banget kan kalo sampe mereka yang kena jadi bahan gosip jadi di cap jelek?. Teman, Bukankah semua orang tuh punya sisi baik dan buruk?. Slama kita masih punya titel manusia, salah pasti tetep bakalan ada. Nich termasuk kamu juga loh.  So, kalo emang faktanya dia jelek, cobalah cari sisi bagusnya.
Trus buat kamu yang udah ngerasa pernah ngegosipin siapapun, buru- buru minta maaf deh, soalnya Rasulullah S.A.W. bersabda : "Awaslah daripada mengumpat kerana mengumpat itu lebih berdosa daripada zina. Sesungguhnya orang melakukan zina, apabila dia bertaubat, Allah akan menerima taubatnya. Dan sesungguhnya orang yang melakukan umpat tidak akan diampunkan dosanya sebelum diampun oleh orang yang diumpat" (Hadis riwayat Ibnu Abib Dunya dan Ibnu Hibbad).
Jangan lupa juga pren, ingetin temen- temen yang pada ikut klub gosipers, buat nggak nerusin semua perbuatan itu. Untung banget loh, Seperti yang disabdakan Nabi yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Tabhrani, “Barangsiapa yang membela kehormatan saudaranya yang sedang dipergunjingkan, maka Alloh akan membebaskannya dari api neraka.`
Trakir, ...
Teman, Mule sekarang, nggak da ruginya kita barang bentaran ajah pada puasa spik. Cuman ngomonk yang baek- baek en ngedenger yang baek- baek juga,Insyaallah bakal jadi rahmat buat kita en semua orang. Bukankah Allah nyiptain kekurangan ke semua manusia, biar manusia bisa belajar untuk stay humble sama yang laennya? ....
(Syahidah/Voa-islam.com)